PENJELASAN TENTANG WALIMAH, MLM, DAN OJEG.

1- Walimah: Beberapa fakta walimah, antara lain, sebagai berikut:
a- Fakta pertama: (1) aula yang bercampur-baur (ikhtilath), dimana undangan laki-laki dan wanita bercampur baur, (2) mempelai perempuan dengan mempelai laki-lakinya duduk bersama, (3) sementara para wanita, baik mahram maupun bukan, duduk di sekeliling mereka, (4) wanita-wanita tersebut berdandan dan mempertontonkan auratnya, (5) mereka bernyanyi dan menari di depan kedua mempelai, (6) kaum laki-laki juga turut serta bernyanyi dan menari di depan kedua mempelai, (7) mempelai laki-laki memakaikan kepada mempelai perempuannya perhiasan.
b- Fakta kedua: (1) aula yang terpisah, tanpa terjadi ikhtilâth (campur-baur antara laki-laki dan wanita), (2) ketika mempelai wanita datang, kaum laki-laki mengantarkannya ke pelaminan (untuk duduk) bersama dengan mempelai laki-lakinya dalam ruangan wanita, (3) kaum wanitanya bernyanyi dan menari di depan kedua mempelai, baik mahram maupun bukan, (4) di antara wanita-wanita itu ada yang ber-tabarruj, dan membuka auratnya, (5) mempelai laki-laki memakaikan kepada mempelai perempuannya perhiasan.
c- Penjelasan Hukum: (1) Aula (ruangan) yang digunakan harus ada dua aula yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, atau satu aula tetapi dipisah dengan hijab yang sempurna, mulai dari bawah sampai di atas kepala, (2) duduknya mempelai laki-laki dengan mempelai wanita di ruangan yang bercampur-baur (ikhtilath), antara kaum laki-laki dengan wanita, hukumnya jelas haram, (3) duduknya mempelai laki-laki bersama mempelai wanita di depan kaum wanita, baik mahram maupun bukan, dalam sebuah ruangan kaum wanita hukumnya boleh, (dengan syarat: (a) jika mempelai laki-laki tetap menundukkan pandangannya, (b) tidak lama berada di ruangan tersebut, misalnya cukup dengan memakaikan sebagian perhiasan yang lazim kepada mempelai wanita, dan tidak lama setelah itu dia keluar. Sebaliknya, jika dia lama berada di ruangan tersebut, sementara dia terus duduk bersama mempelai wanita, di tengah-tengah kaum wanita, baik mahram maupun bukan, lebih-lebih jika mereka auratnya terbuka, dan dia pun tidak menundukkan pandangannya, sehingga matanya terus menikmati apa yang diharamkan oleh Allah, maka hukumnya haram), (4) jika majlisnya dibatasi hanya untuk kalangan yang sangat terbatas, seperti mahram dengan kerabat dekat saja, sementara tidak ada aurat yang terbuka, yang nota bene diharamkan, maka tindakan seperti ini lebih baik dan afdal, ketimbang tindakan di atas, (4) kalau dibatasi hanya untuk mahram saja, tentu tindakan ini merupakan ujud perlombaan dalam kebaikan (afdhal al-afadhil).
d- Catatan: keterangan ini merupakan pakem pelaksanaan walimah yang dinyatakan oleh syara’ dan diadopsi oleh Hizb. Adapun dalil-dalil lain yang bertentangan dengan fakta-fakta di atas akan dikaji lebih jauh, antara lain, seperti kasus Habibah, yang dinyatakan dalam Shahih al-Bukhari.

2- MLM: Fakta hukum MLM (Multilevel Marketing) menurut soal-jawab yang dikeluarkan preskom tentang Gold Quest, antara lain, sebagai berikut:
a- Fakta mu’amalah: (1) adanya aspek shafqatayn fi shafqah (dua akad dalam satu transaksi), misalnya: Aku akan membeli rumahmu, kalau kamu membeli rumahku; Aku menjual rumahku kepadamu, kalau kamu menikahkan aku dengan anakmu. [Lihat, as-Syakhshiyyah, juz II, bab al-bay’ bi ad-dayn wa at-taqsith, pendapat yang sama adalah qaul imam as-Syafi’i]. Dalam hal ini: Aku akan membeli rumahmu adalah satu akad, kamu membeli rumahku akad yang lain, karena dua akad tersebut digabung menjadi satu, maka jadilah dua akad tersebut dalam satu transaksi yang mengikat. Contoh kasus shafqatayn fi shafqah dalam MLM adalah: adanya akad pembelian disatukan dengan pemakelaran, dimana seseorang baru bisa mendapatkan komisi atas samsarah-nya setelah membeli sejumlah tertentu. (2) adanya aspek samsarah ‘ala samsarah (memakelari makelar) tidak boleh. Karena samsarah adalah aktivitas perantara (tawasuth) atau penunjukan (dalal) yang menghubungkan penjual dan pembeli. Misalnya, Fulan merekrut orang untuk menjadi downline. Dari jaringan tersebut, Fulan mendapatkan komisi jaringan. Maka, status downline di bawahnya adalah simsar bagi upline yang ada di atasnya. Dan begitu seterusnya, sehingga terbentuk jaringan. Maka, jaringan-jaringan yang terbentuk tadi statusnya adalah samsarah ‘ala samsarah, (3) adanya akad terhadap selain barang dan jasa. Karena fakta akad harus dilakukan terhadap barang dan jasa. Jika fakta mu’amalah dalam MLM tersebut memenuhi salah satu atau ketiga-tiga fakta di atas, maka hukumnya haram.
b- Fakta kasus per kasus MLM: (1) dalam penentuan status hukum kasus per kasus MLM adalah bagian dari tahqiq al-manath, sehingga status hukum boleh dan tidaknya harus mengikuti manath hukum di atas, (2) dalam memutuskan status hukum, hendaknya dilandasi aspek ketakwaan kepada Allah SWT. dan kehatian-hatian (ihtiyath), (3) hendaknya meninggalkan perkara yang masih belum jelas status hukumnya.

3- Ojek:
a- Fakta kebolehan ojek: kebolehan naik ojek bagi wanita, jika memenuhi dua syarat: (1) satu sama lain (penumpang wanita dan tukang ojek laki-laki) tidak saling bersentuhan, karena adanya pembatas di antara masing-masing, atau adanya dua tempat duduk yang terpisah, (2) tidak melalui rute perjalanan yang sepi dari penglihatan orang, (3) selama tidak menimbulkan fitnah, tetapi jika dikhawatirkan terjadi fitnah, maka hendaknya ditinggalkan.
b- Ketidakbolehan ojek: jika syarat-syarat di atas tidak terpenuhi, maka hukumnya tidak boleh, dan hendaknya ditinggalkan.

Lajnah Tsaqofi HTI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: