Film Perempuan Berkalung Sorban Sarat Ide Feminisme

Film Perempuan Berkalung Sorban

Film Perempuan Berkalung Sorban

Orang-orang yang mengaku sebagai mujaddid (pembaharu) pada abad ini senantiasa membuat sensasi yang membuat masyarakat terobsesi untuk melakukan hal-hal yang dapat membawanya kepada sebuah kesesatan. Tegok saja film Perempuan Berkalung Sorban ini, tidak peduli apa misi dari cerita yang dibawakan, mereka langsung aja mengklaim kehidupan Islam itu sebuah ketertinggalan, dalam kata lain kuno atau ortodok. Padahal sebenarnya mereka meinginkan kehidupan bebas Tuhan (bebas dari aturan Tuhan), sungguh mengerikan. Bahkan pendukung film ini dalam debat di TV One (Wahdah Hafidz) mengungkapkan betapa dia dan kaum feminis lainnya menghujat aturan Allah yang katanya “Merendahkan Wanita”, bukan itu saja, diapun menghujat kitab Uqudu Lizain yang dipelajari selama berabad-abad oleh umat Islam di anggap Kitab yang Melecehkan Kaum Wanita. Apakah demikian???

Resonansi Film

Film ini berkisah mengenai pengorbanan seorang wanita Muslim, Anissa (diperankan oleh Revalina S. Temat), seorang wanita berpendirian kuat, cantik, dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga Kyai di sebuah pesantren Salafiah putri al-Huda, di Jawa Timur, Indonesia, yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah al-Qur’an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang

Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang. Tapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (diperankan oleh Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Anissa. Diam-diam Anissa menaruh hati pada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (diperankan oleh Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo, Mesir. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Yogyakarta, Indonesia, dan diterima. Namun Kyai Hanan tidak mengizinkannya dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Namun Anissa bersikeras dan protes kepada ayahnya.

Akhirnya Anissa malah dinikahkan dengan Samsudin (diperankan oleh Reza Rahadian), seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataannya Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (diperankan oleh Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh. Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai.

Sungguh mengerikan, ini diakibatkan tidak diterapkannya Islam secara utuh dan menyeluruh didunia ini, sehingga kita tidak mampu mencegah pelecehan dan penghinaan oleh orang-orang yang munafik dan fasik ini. Kembalilah kepada Kehidupan Islam yang Mulia, di bawah naungan Daulah Khilafah al-Islamiyyah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: