SEPUTAR DINAR DAN DIRHAM

Krisis moneter dan
ekonomi yang menimpa Indonesia sejak 1997 lalu
dan krisis global yang baru-baru ini memberikan
banyak pelajaran berharga. Di antaranya, orang kembali menengok emas. Investasi
(saving) emas menjadi pilihan yang
menjanjikan. Betapa tidak, akibat krisis moneter, nilai kekayaan masyarakat
jauh berkurang, baik karena nilai kurs rupiah yang anjlok maupun karena daya
beli masyarakat yang sangat rendah. Kenyataan
itu tak terjadi pada emas. Sebab, emas tidak terpengaruh oleh inflasi serta
aman dari depresiasi nilai mata uang. Ini berbeda dengan bentuk investasi lain,
misalnya deposito dan tanah. Dengan suku bunga deposito yang tinggi misalnya,
ternyata tingkat inflasi pun ikut pula tinggi. Investasi tanah pun menjadi amat
riskan dalam situasi ekonomi yang rentan dan labil, karena tanah atau properti
merupakan investasi yang paling tidak laku saat kondisi ekonomi sedang loyo.

Maka, wajar bila emas menjadi
investasi strategis karena relatif bebas dari inflasi atau depresiasi nilai
mata uang. Sebagai contoh, harga emas internasional pada Juli 1997 adalah US $
290/troy oz atau US $ 9,32/gram. Apabila kondisi mata uang di suatu negara
–misalnya rupiah– merosot dari Rp 3
ribu menjadi Rp 12 ribu untuk 1 dolar AS, maka harga emas di Indonesia akan
berubah dari Rp 27 ribu/gram menjadi Rp 111.840,-/gram, atau naik sebesar 400
persen. Jadi, nilai emas akan selalu tetap, mengikuti berapapun dolar AS
menghargai 1 gram emas (Moniaga, 1999).

Selain sebagai investasi, emas (dan
juga perak) kembali ditengok sebagai alternatif mata uang tangguh untuk mencegah merosotnya nilai mata uang. Nilai
mata uang yang berlaku saat ini, pasti terikat dengan mata uang negara lain
(misalnya rupiah terhadap dolar AS). Tidak bersandar kepada nilai intrinsik
yang dikandungnya sendiri. Implikasinya, nilainya tidak pernah stabil. Bila
nilai mata uang itu bergejolak, pasti akan mempengaruhi kestabilan mata uang
tersebut

Fenomena seperti itu nampak mulai awal Juli 1997, tatkala 1 dolar AS masih senilai Rp 2.445. Karena faktor ekonomi –seperti defisit neraca transaksi berjalan– dan faktor non ekonomi –seperti isu seputar kesehatan Presiden Soeharto– pada awal Januari 1998 nilai rupiah telah anjlok menjadi Rp. 11.000 per 1 dolar AS. Jelas, nilai rupiah sangat tidak stabil karena terikat dolar AS.

Karenanya, orang mulai mencari-cari mata uang yang tak terkena depresiasi nilai mata uang serta
mempunyai nilai intrinsik yang terkandung dalam dirinya sendiri. Emas dan perak memenuhi kriteria tersebut. Dengan menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, nilai nominal dan nilai intrinsiknya akan menyatu padu. Dengan kata lain, nilai nominalnya tidak ditentukan oleh daya tukarnya terhadap mata uang lain, tetapi ditentukan oleh berat emas atau perak itu sendiri. Maka, depresiasi tidak akan terjadi sehingga kestabilan mata uang Insya Allah akan dapat dijamin.

Sebenarnya, umat Islam telah akrab dengan mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) itu. Bahkan mereka telah menggunakannya secara praktis sejak kelahiran Islam hingga runtuhnya Khilafah
Utsmaniyah di Turki pasca Perang Dunia I. Namun karena ketidak pedulian dan hegemoni sistem moneter kapitalis atas mereka, dinar dan dirham kini seolah hanya impian atau dongeng belaka. Yang ada dalam kisah-kisah Seribu Satu Malam atau Nasrudin Hoja.

Sejarah Dinar dan Dirham

Mengikuti penuturan Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Al Amwal fi Daulatil Khilafah (1983),
dinar dan dirham telah dikenal oleh orang Arab sebelum datangnya Islam, karena
aktivitas perdagangan yang mereka lakukan dengan negara-negara di sekitarnya.
Ketika pulang dari Syam, mereka membawa dinar emas Romawi (Byzantium). Dari
Iraq, mereka membawa dirham perak Persia (Sassanid). Kadang-kadang mereka
membawa pula sedikit dirham Himyar dari Yaman. Jadi saat itu banyak mata uang
asing yang masuk negeri Hijaz, berupa dinar emas Romawi dan dirham perak Persia.

Tetapi orang-orang Arab saat itu tidak menggunakan dinar dan dirham tersebut menurut nilai nominalnya, melainkan menurut beratnya. Sebab mata uang yang ada hanya dianggap sebagai kepingan emas atau perak. Mereka tidak menganggapnya sebagai mata uang yang dicetak, mengingat bentuk dan timbangan dirham yang tidak sama dan karena kemungkinan terjadinya penyusutan berat akibat peredarannya. Karena itu, untuk mencegah terjadinya penipuan, mereka lebih suka menggunakan
standar timbangan khusus yang telah mereka miliki, yaitu auqiyah, nasy, nuwah, mitsqal, dirham, daniq, qirath, dan habbah. Mitsqal merupakan berat pokok yang sudah diketahui umum, yaitu setara dengan
22 qirath kurang satu habbah. Di kalangan mereka, berat 10 dirham sama dengan 7 mitsqal.

Setelah
Islam datang, Rasulullah SAW mengakui (men-taqrir)
berbagai mu’amalat yang menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia. Beliau juga
mengakui standar timbangan yang berlaku di kalangan kaum Quraisy untuk
menimbang berat dinar dan dirham. Tentang ini Rasulullah SAW bersabda, “Timbangan berat (wazan) adalah timbangan
penduduk Makkah, dan takaran (mikyal) adalah takaran penduduk Madinah.”
(HR.
Abu Dawud dan An Nasa`i).

Kaum
muslimin terus menggunakan dinar Romawi dan dirham Persia dalam bentuk, cap,
dan gambar aslinya sepanjang hidup Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh masa
kekhilafahan Abu Bakar Ash Shiddiq dan
awal kekhilafaan Umar bin Khaththab. Pada tahun 20 Hijriah –yaitu tahun ke-8
kekhilafahan Umar– Khalifah Umar mencetak uang dirham baru berdasarkan pola
dirham Persia. Berat, gambar, maupun tulisan Bahlawi-nya (huruf Persianya)
tetap ada, hanya diambah dengan lafaz yang ditulis dengan huruf Arab gaya Kufi,
seperti lafazh “Bismillah” (Dengan
nama Allah) dan “Bismillahi Rabbi
(Dengan nama Allah Tuhanku) yang terletak pada tepi lingkaran. Tradisi ini
dilestarikan kaum muslimin pada pencetakan uang untuk abad-abad kemudian

Pada
tahun 75 Hijriah (695 M) –ada yang mengatakan 76 Hijriah– Khalifah Abdul
Malik bin Marwan mencetak dirham khusus yang bercorak Islam, dengan lafaz-lafaz
Islam yang ditulis dengan huruf Arab gaya Kufi. Pola dirham Persia tidak
dipakai lagi. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 77 Hijriah (697 M), Abdul Malik
bin Marwan mencetak dinar khusus yang bercorak Islam setelah meninggalkan pola
dinar Romawi. Selain itu, dia menginstruksikan pula untuk menghapus gambar-gambar manusia dan hewan pada dinar
dan dirham untuk diganti dengan lafaz-lafaz Islam.

Lafaz-lafaz
Islam yang tercetak itu misalnya kalimat “Allahu
Ahad”
(Allah itu Tunggal) dan “Allahu
Baqa'”
(Allah itu Abadi). Gambar manusia dan hewan tidak dipakai lagi.
Dinar dan dirham ada yang pada satu sisinya diberi tulisan “Laa ilaaha illalah”, sedang pada sisi sebaliknya
terdapat tanggal pencetakan serta nama Khalifah atau Wali (Gubernur) yang
memerintah pada saat pencetakan mata uang. Pencetakan yang belakangan
memperkenalkan kalimat syahadat, shalawat Nabi SAW, satu ayat Al Qur`an, atau
lafaz yang menggambarkan kebesaran Allah SWT.

Sejak
saat itulah, kaum muslimin mempunyai dinar dan dirham Islam sebagai mata uang
resmi mereka dan tidak menggunakan mata uang lainnya.

Fakta
ini terus berlanjut sepanjang sejarah Islam, hingga beberapa saat menjelang
Perang Dunia I ketika dunia menghentikan penggunaan emas dan perak sebagai mata
uang. Setelah Perang Dunia I berakhir, emas dan perak digunakan kembali sebagai
mata uang, tetapi hanya bersifat parsial. Ketika negara Islam (Khilafah) di Turki
hancur pada tahun 1924, dinar dan dirham Islam tidak lagi menjadi mata uang
kaum muslimin.

Namun
demikian, emas dan perak tetap digunakan, meskipun makin lama makin berkurang.
Pada tanggal 15 Agustus 1971, penggunaan emas dan perak dihentikan secara total,
tatkala Richard Nixon –Presiden Amerika Serikat saat itu — mengumumkan secara
resmi penghentian sistem Bretton Woods. Sistem ini sebelumnya menetapkan bahwa
dolar harus ditopang oleh emas dan terikat dengan emas pada harga tertentu.

Fakta Dinar dan Dirham

Berat (wazan) dinar di masa Jahiliyah (dinar
Romawi) tidak berbeda dengan berat dinar di masa Islam. Berat dinar hanya satu,
yaitu seberat satu mitsqal. Satu mitsqal sama dengan 8 daniq, dan beratnya sama
dengan 20 qirath (atau 22 qirath kurang satu habbah/kasr). Berat 1 mitsqal ini
sama dengan 72 butir gandum ukuran sedang yang dipotong kedua ujungnya. Atau
sama dengan 6000 habbah (biji) khardal
bari
(sejenis tanaman sawi) ukuran sedang.

Rasulullah SAW telah mengakui
berat dinar tersebut serta mengaitkannya dengan hukum-hukum zakat, diyat, dan
pemotongan tangan pencuri. Dinar inilah yang disebut dengan dinar syar’i .
Standar berat ini pula yang dipakai Khalifah Abdul Malik bin Marwan tatkala dia
mencetak dinar Islam pada tahun 77 Hijriah (697 M) (Zallum, 1983).

Berbeda dengan dinar yang
mempunyai satu standar berat, dirham berbeda-beda beratnya. Dirham Persia saat
itu ada 3 macam :

1.
Dirham besar (dirham kibar). Beratnya 1 mitsqal, atau 20 qirath.

2.
Dirham kecil (dirham shighar). Beratnya
0,5 mitsqal, atau 10 qirath.

3.
Dirham sedang (dirham wasath). Beratnya 0,6 mitsqal,
atau 12 qirath.

Dirham
besar disebut juga dirham Baghliyah,
atau As Suud Al Wafiyah, yang
beratnya sama dengan dirham standar, yakni 1 mitsqal. Dirham kecil disebut juga
dirham Thibriyah, diambil dari nama
tempat pembuatannya, yaitu Thibristan, sebuah negeri yang terletak di sebelah
selatan Laut Caspienne (Qazwin). Adapun dirham sedang disebut juga dirham Jawariqiyah, diambil dari nama tempat
pembuatannya, yaitu Jurqan, sebuah dusun di Isfahan, Iran (Al Baghdadi, 1987).

Rasulullah
SAW mengakui standar berat dinar tersebut, kemudian mengaitkannya dengan hukum
kewajiban zakat perak; yakni untuk setiap 200 dirham, zakatnya 5 dirham. Dirham
yang tiap 10 kepingnya mempunyai berat berbeda-beda, akhirnya hanya dinilai
seberat 7 mitsqal. Berat ini lazim dikenal sebagai “waznu sab’ah”, yaitu berat 10 dirham sedang (dirham wasath) setara dengan berat 7 mitsqal.

Dirham
inilah yang disebut dirham syar’i yang berlaku dalam hukum-hukum zakat dan diyat.
Dirham ini pula yang dijadikan dasar bagi Khalifah Abdul Malik bin Marwan
tatkala dia mencetak dirham Islam pada tahun 75 Hijriah (695 M).

Setelah ditemukan
berbagai peninggalan bersejarah seperti dinar Byzantium, dirham Sassanid, dinar
dan dirham Islam (terutama yang dicetak oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan),
maka berat dinar dan dirham yang pernah dipakai pada masa Rasulullah SAW –dan
juga satuan berat lainnya seperti daniq, qirath, habbah sya’ir, nasy, nuwah,
dan auqiyah– akhirnya dapat dikonversi ke dalam satuan-satuan berat
yang dikenal di zaman modern saat ini. Hal ini ditunjukkan dalam tabel 1
dan tabel 2 .

Tabel 1. Konversi Berat (Wazan) Dinar :

Standar Berat
Syar’i

Perhitungan

Berat Emas (gram)

Keterangan

1 mitsqal (1
dinar)

4,25

Standar berat
dinar

1 daniq emas

1/8 x 4,25 gr
emas

0,53125

1 mitsqal = 8
daniq

1 qirath

1/20 x 4,25 gr
emas

0,2125

1 mitsqal = 20 qirath

1 habbah sya’ir

1/72 x 4,25 gr
emas

0,059

1 mitsqal = 72 habbah sya’ir

Catatan :

Habbah sya’ir =
biji gandum

Tabel
2. Konversi Berat (Wazan) Dirham :

Standar Berat
Syar’i

Perhitungan

Berat Perak
(gram)

Keterangan

1 dirham

7/10 x 4,25 gr
emas

2,975

1 dirham = 7/10
mitsqal

10 dirham

10 x 2,975 gr
perak

29,75

10 dirham = 7
mitsqal

1 nasy

20 x 2,975 gr
perak

59,5

1 nasy = 20
dirham

1 nuwah

5 x 2,975 gr
perak

14,875

1 nuwah = 5
dirham

1 daniq perak

1/6 x 2,975 gr
perak

0,495

1 dirham = 6
daniq

1 auqiyah

40 x 2,975 gr
perak

119

1 auqiyah = 40
dirham

Catatan :

10 dirham = 7
mitsqal (waznu sab’ah)

Dari tabel 1 dan 2 di atas dapat diketahui, bahwa 1 dinar
syar’i adalah emas seberat 4,25 gram sedang 1 dirham syar’i adalah perak
seberat 2,975 gram (Zallum, 1983).

Inilah
mata uang beserta berat timbangannya yang dipakai pada masa Jahiliyah. Tatkala
Islam datang, Islam mengakui dan mengesahkan penggunaannya sebagai alat tukar
dan standar untuk menilai

berbagai barang dan
jasa.

Dinar dan
Dirham Sebagai Mata Uang Islam

Ketika Islam menetapkan
hukum-hukum jual-beli (bai’) dan
sewa-menyewa (ijarah), Islam tidak
menetapkan barang tertentu sebagai asas pertukaran (mubadalat/tabadul) untuk barang dan jasa. Islam memberikan
kebebasan kepada manusia untuk melangsungkan pertukaran dengan asas apa saja,
selama terdapat unsur saling ridha (taradhi)
dalam pertukaran tersebut (An Nabhani, 1963).

Karena itu, seorang
lelaki boleh menikahi seorang perempuan dengan mahar mengajarkan kepadanya
keterampilan menjahit. Seseorang boleh membeli mobil dengan “harga” bekerja di
pabrik pemilik mobil selama sebulan. Seseorang boleh bekerja pada orang lain
dengan upah berupa gula dalam jumlah tertentu. Seseorang boleh membeli pedang
dengan sejumlah kurma. Boleh pula dia membeli kambing dengan sejumlah gandum,
atau membeli pakaian dengan dinar, atau membeli daging dengan dirham. Boleh
pula seseorang bekerja sehari dengan upah sejumlah anggur, dan seterusnya
(Zallum, 1983).

Jadi, Islam membolehkan manusia
untuk melakukan pertukaran dengan apa saja yang mereka kehendaki, selama
terdapat saling ridha, baik yang dipertukarkan itu barang, jasa, atau uang. Hal
ini

didasarkan pada
keumuman dalil-dalil jual-beli dan sewa-menyewa. Dalam jual-beli Allah SWT
telah berfirman :

“Dan Allah telah menghalalkan jual-beli.” (QS Al Baqarah : 275)

Kata “al bai’” (jual-beli) dalam ayat tersebut
bersifat umum, artinya halal menukarkan barang apa saja dengan barang apa saja.

Dalam sewa-menyewa Rasulullah
SAW bersabda :

“Jika seseorang dari kalian mempekerjakan seorang pekerja
(ajiir), maka beritahukan kepadanya upahnya.”

Sabda Nabi SAW “ajrahu” (upahnya) bersifat umum, yaitu
boleh memberikan upah apa saja kepada orang yang disewa, baik berupa barang
maupun jasa.

Lagi pula, segala sesuatu yang
dipertukarkan faktanya adalah barang-barang (asy-yaa’), yang hukumnya adalah mubah (boleh) menurut kaidah syara
‘:

“Al ashlu fil asy-yaa` al ibahatu ma
lam yarid dalilut tahrim”

“Hukum asal barang adalah boleh, selama tidak terdapat
dalil yang mengharamkan.”

Maka
dari itu, pertukaran dengan barang apa saja adalah boleh secara mutlak, kecuali
bila terdapat nash-nash yang mengharamkan pertukaran suatu barang tertentu,
misalnya babi, bangkai, darah, dan sebagainya.


Berdasarkan uraian di atas, maka pertukaran uang dengan barang, atau
barang dengan uang, adalah mubah secara mutlak, kecuali pertukaran uang dengan
uang yang mempunyai hukum-hukum khusus. Begitu pula pertukaran jasa dengan
uang, atau uang dengan jasa, adalah mubah secara mutlak, kecuali jasa yang
diharamkan oleh nash tertentu, seperti pelacuran dan sihir.

Karenanya, An Nabhani (1963)
menyimpulkan bahwa pertukaran barang dengan satuan mata uang tertentu, juga
pertukaran jasa dengan satuan mata uang tertentu, adalah mubah secara mutlak,
apa pun bentuk satuan mata uang yang dipakai. Jika satuan mata uang yang
dipakai sama sekali tidak ditopang oleh sejumlah emas dan perak –seperti uang
kertas yang tak dapat ditukar dengan logam murni (inconvertible paper money/fiat money/nuqud waraqiyah ilzamiyah)–
maka mata uang tersebut dianggap sebagai barang, sehingga sah dipertukarkan.

Jika satuan mata uang yang dipakai ditopang
oleh emas dalam persentase tertentu, sedang persentase sisanya ditopang oleh
suatu barang (yang bukan emas/perak) –seperti uang kertas yang dijamin (representative money/nuqud waraqiyah
watsiqah
)– maka pertukaran yang ada
dianggap pertukaran dengan barang dan emas. Jadi, sah pula melakukan pertukaran
dengan mata uang tersebut.

Jika
satuan mata uang yang dipakai ditopang sepenuhnya oleh emas dan perak yang
setara dengan nilai nominalnya –seperti uang kertas subsitusi (nuqud waraqiyah na`ibah)– maka pertukaran
yang berlangsung dianggap pertukaran dengan emas dan perak, sehingga sah
melakukan pertukaran dengannya.

Dengan demikian, sah hukumnya
melakukan pertukaran barang atau jasa dengan satuan mata uang apa pun (An
Nabhani, 1963).

Akan
tetapi, Islam membedakan masalah pertukaran
(mubadalat/tabadul) dengan
masalah mata uang (naqd) yang akan
dicetak negara Islam (Khilafah). Dalam pertukaran, Islam memang tidak
menetapkan suatu benda tertentu sebagai asasnya, selama ada saling ridho (taradhi) dalam prosesnya. Namun dalam
masalah mata uang bagi negara, Islam telah menetapkan standar tertentu sebagai
asas pertukaran, yaitu emas dan perak. Sebab Islam telah mengaitkan hukum-hukum
syara’ tertentu dengan emas dan perak sebagai emas dan perak dan sebagai mata uang. Islam telah menjadikan keduanya sebagai
standar untuk menilai barang dan jasa serta sebagai asas bagi berbagai
transaksi mu’amalah (Zallum, 1983).

Dengan
kata lain, jika negara Islam (Khilafah) menghendaki agar wilayah-wilayah yang
berada di bawah pemerintahannya menggunakan satuan mata uang tertentu, maka
negara tidak dibenarkan menggunakan sembarang mata uang. Hanya ada satuan mata
uang tertentu yang ditetapkan syara’ bagi negara, yaitu emas dan perak. Negara
tidak boleh menggunakan mata uang lainnya.

Dalil syara’ untuk ketentuan
hukum ini dipahami dari pengaitan emas dan perak dengan hukum-hukum syara’ yang
tetap dan tidak berubah-ubah. Hukum-hukum syara’ itu adalah larangan menimbun
emas dan perak sebagai alat tukar, nishab potong tangan, zakat emas dan perak,
diyat (tebusan), serta hukum sharf
(tukar menukar uang). Hukum-hukum tersebut lebih rincinya adalah sebagai
berikut :

1.
Islam mengharamkan menimbun emas
dan perak. Allah SWT berfirman :

“Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, dan tidak
menafkahkannya di jalan Allah (jihad) maka berilah kabar gembira kepada mereka
akan azab yang pedih.”
(QS At Taubah : 34)

Larangan pada ayat di atas
tertuju pada penimbunan emas dan perak, sebagai emas dan perak, dan
sebagai mata uang dan alat tukar. Yang
dimaksud menimbun (al kanz) adalah
mengumpulkan sesuatu tanpa ada keperluan (hajat).
Adapun mengumpulkan sesuatu karena ada suatu keperluan, disebut al iddikhar (menabung/menyimpan), dan
hukumnya boleh, misalnya mengumpulkan emas dan perak (atau uang) untuk membayar
mahar dalam pernikahan, membuka usaha,
membangun rumah, naik haji, dan sebagainya (An Nabhani, 1990).

2.
Islam mewajibkan zakat pada emas
dan perak. Islam telah menetapkan pula adanya nishab tertentu. Sabda Rasulullah
SAW, ”Pada setiap 20 dinar (zakatnya)
setengah dinar.
” Artinya, nishab zakat dinar (emas) adalah 20 dinar (atau
85 gr emas), dan zakatnya sebesar 2,5 %
(1/40). Rasulullah SAW bersabda, “Dan
pada setiap 200 dirham (zakatnya) 5 dirham.”
Artinya, nishab zakat dirham
(perak) adalah 200 dirham (atau 595 gr perak), dan zakatnya adalah 2,5 %
(1/40).

3.
Islam mewajibkan pembayaran diyat
dengan emas dan perak, serta menentukan ukuran tertentu untuk masing-masingnya.
Diyat berupa emas besarnya 1000 dinar, sedang diyat berupa perak besarnya 12.000
dirham. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa pernah seorang laki-laki dari
kabilah Bani Ady terbunuh. Lalu Nabi SAW menetapkan bahwa diyatnya adalah
sebesar 12.000 dirham. (HR. Ashabus Sunan). Diriwayatkan dari Abu Bakar bin
Muhammad bin Amr bin Hazm dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Rasulullah SAW
telah menulis surat kepada penduduk Yaman. Dalam surat itu Rasulullah SAW
bersabda,”Bahwa dalam jiwa seorang mu`min
(yang terbunuh) ada diyat 100 ekor unta… Dan bagi yang mempunyai dinar,
(diyatnya) 1000 dinar.”
(HR. An Nasa`i).

4.
Islam mewajibkan potong tangan
dalam kasus pencurian. Islam telah menentukan kadar minimal nilai harta yang
dicuri supaya hukum potong tangan dapat diterapkan, yaitu seperempat dinar,
atau 3 (tiga) dirham. Diriwayatkan dari
‘Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dipotong tangan pencuri kecuali dalam (barang senilai)
seperempat dinar atau lebih.”
(HR. Khamsah)

5.
Ketika Islam menetapkan hukum
tukar menukar uang (sharf), Islam
menetapkan uang dalam bentuk emas dan perak. Sharf adalah menukarkan atau membeli uang dengan uang, baik dalam
jenis yang sama seperti membeli emas dengan emas atau perak dengan perak,
maupun antar jenis yang berbeda seperti membeli emas dengan perak atau membeli
perak dengan emas. Diriwayatkan dari Abi Bakrah RA, bahwa Rasulullah SAW
bersabda, “Rasulullah SAW melarang jual
beli perak dengan perak dan emas dengan
emas, kecuali dengan nilai setara (sama nilainya). Beliau membolehkan kita
membeli perak dengan emas menurut kehendak kita, serta membolehkan kita membeli
emas dengan perak menurut kehendak kita.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hukum-hukum syara’ di
atas yang dikaitkan dengan emas dan perak menunjukkan, bahwa emas dan perak
merupakan satuan mata uang standar –yang telah ditetapkan berdasarkan taqrir (pengakuan atau persetujuan) Rasulullah
SAW– untuk menilai berbagai barang dan
jasa (Zallum,
1983).

Oleh
sebab itu, jika negara hendak mencetak mata uang tertentu, negara haruslah
mencetak mata uang emas (dinar) dan perak (dirham), tidak boleh mencetak yang
lain (An Nabhani, 1963).

Pencetakan Mata Uang oleh Negara Islam
(Khilafah)

Menurut Taqiyyuddin An Nabhani
dalam Muqaddimah Dustur (1963),
negara Islam (Khilafah) mubah hukumnya untuk mencetak mata uang tertentu, tidak
wajib. Dengan kata lain, hukum syara’ menetapkan, bahwa negara boleh mencetak
mata uang khusus, boleh juga tidak mencetak.

Hukum tersebut dipahami dari
teladan Rasulullah SAW yang tidak mencetak mata uang tertentu dengan karakteristik khusus. Negara Islam
waktu itu tidak mempunyai mata uang tertentu. Kondisi ini berlangsung selama
masa Rasulullah, Khulafa` Rasyidin, serta masa-masa awal Khilafah Bani Umayah.
Ketika Abdul Malik bin Marwan menjadi Khalifah, barulah dicetak dinar dan
dirham Islam dengan karakteristik serta berat tertentu yang bersifat tetap.
Sebelum itu, tidak ada dinar dan dirham Islam.

Maka dari itu, mencetak mata
uang tertentu hukumnya adalah mubah
–bukan wajib– bagi negara Islam
(An Nabhani, 1963).

Namun demikian, jika kondisi
mengharuskan negara untuk mencetak mata uang –demi menjaga perekonomian dan
moneter negara dari kemerosotan, serta menghindarkan dominasi dan kendali
negara asing– maka mencetak mata uang hukumnya menjadi wajib atas negara
Islam, berdasarkan kaidah syara’ :

“ Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib”

“Segala sesuatu yang tanpanya suatu kewajiban tak
terlaksana sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib pula hukumnya”
(An Nabhani, 1963).

Tentu saja, mata uang yang
dikeluarkan oleh negara harus bersifat mandiri dan tidak boleh terikat dengan
mata uang asing mana pun. Pengalaman menunjukkan bahwa, suatu negara yang mata
uangnya terikat dengan negara asing –seperti rupiah yang terikat dolar AS–
akan senantiasa tunduk di bawah belas kasihan dan arahan (dikte) dari negara
asing itu dalam kebijakan perekonomiannya Ini diharamkan berdasarkan kaidah
syara’ :

“Al wasilatu ilal
haram haram”

“Segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram”. (An Nabhani, 1963)

Berdasarkan ini, jika negara
Islam (Khilafah) eksis kembali, maka jelas telah menjadi wajib baginya untuk
memiliki dan mencetak mata uangnya sendiri –yakni emas dan perak– bukan lagi
sekedar mubah. Di samping itu negara Islam juga tidak boleh mengaitkan mata
uangnya itu dengan mata uang asing mana pun, terutama dolar AS. Sebab, menilik
realitas kontemporer yang ada, terbukti dolar AS telah dijadikan salah satu
instrumen dominasi dan hegemoni internasional di bidang politik dan ekonomi,
yang banyak menimbulkan kemudharatan berbagai negara di dunia.

Bolehkah negara Khilafah
mencetak mata uang lain yang bukan emas dan perak? Menurut An Nabhani (1963),
negara Khilafah boleh mengeluarkan mata uang non-emas dan non-perak sebagai
pengganti emas dan perak, dengan syarat dalam Kas Negara (Baitul Mal) tersimpan emas dan perak yang nilainya sama dengan
nilai nominal pada mata uang yang dicetak. Dengan demikian, negara boleh
mengeluarkan mata uang tembaga, atau mata uang brons (tembaga campuran), atau
uang kertas, atau yang lainnya, serta mencetaknya sebagai mata uang negara (An
Nabhani, 1963).

Abdul Qadim Zallum (1983)
kemudian mengusulkan cetakan dinar emas yang akan dikeluarkan negara –beserta
bagian-bagian dan kelipatan-kelipatannya— seperti ditunjukkan pada tabel 3
berikut.

Tabel
3. Cetakan Dinar Emas

Cetakan Dinar Emas

Berat Emas (gram)

Keterangan

¼ dinar

1,0625

Nishab potong
tangan

½ dinar

2,125

Kadar zakat untuk
setiap 20 dinar

1 dinar

4,25

Standar berat
dinar

5 dinar

21,25

¼ nishab zakat

10 dinar

42,5

½ nishab zakat

20 dinar

85

Nishab zakat

Pencetakan uang dinar di atas
mengikuti ketentuan standar berat (wazan) dinar syar’i , yaitu 4,25 gram emas.
Cetakan ¼ dinar adalah nishab nilai harta minimal untuk pemotongan tangan
pencuri. Cetakan ½ dinar adalah kadar
zakat untuk setiap 20 dinar. Seperti diketahui, nishab zakat emas adalah 20
dinar, sedang zakatnya adalah 2,5 %. Sedang cetakan 5 dan 10 dinar merupakan
kelipatan dinar yang berdasarkan pada nishab zakat, yaitu 20 dinar.

Abdul Qadim Zallum (1983) juga mengajukan usulan mengenai cetakan mata
uang dirham perak –beserta bagian-bagian dan kelipatan-kelipatannya— seperti
ditunjukkan pada tabel 4 berikut.

Tabel
4. Cetakan Dirham Perak

Cetakan Dirham
Perak

Berat Perak
(gram)

Keterangan

½ dirham

1,4875

1 dirham

2,975

Standar berat
dirham

5 dirham

14,675

Kadar zakat untuk
setiap 200 dirham

10 dirham

29,75

20 dirham

59,5

Negara juga boleh mencetak
satuan mata uang yang lebih kecil dari nilai dinar dan dirham seperti yang
tertera dalam tabel 3 dan 4, guna memudahkan muamalah untuk barang-barang remeh
yang murah harganya. Tetapi mengingat kandungan nilai dari satuan emas dan
perak ini kecil saja, maka sulit kiranya untuk mencetak dinar atau dirham dalam
cetakan logam murni. Karena itu, ditambahkanlah pada cetakan dinar dan dirham
ini logam-logam lain dalam persentase tertentu, dengan syarat ada
kejelasan berapa nisbah emas dan perak
yang terkandung dalam mata uang yang dicetak, agar tidak timbul kesamaran atau
keraguan (Zallum, 1983).

Namun demikian, wajib dipahami sekali lagi bahwa tatkala
Islam menentukan bahwa mata uang yang dikeluarkan negara adalah emas dan perak,
tidak berarti negara membatasi kegiatan pertukaran di antara individu rakyat harus dengan mata uang ini.
Tetapi artinya, hukum-hukum syara’ yang memang telah ditentukan menggunakan
satuan mata uang emas dan perak, tidak boleh dilangsungkan kecuali dengan mata
uang emas dan perak. Misalnya, tatkala
Islam menetapkan nishab pencurian harta adalah seperempat dinar. Maka artinya,
hukum potong tidak boleh dilaksanakan kecuali jika barang yang dicuri senilai
seperempat dinar atau lebih. Jadi untuk kasus ini yang digunakan adalah standar
dinar, bukan sembarang mata uang.

Adapun pertukaran, hukumnya
tetap mubah. Negara tidak boleh mengikat atau mengekang pertukaran-pertukaran
yang terjadi harus dengan satuan mata uang tertentu. Dengan kata lain, negara
tidak boleh mengikat berbagai pertukaran dengan mata uang negara (emas dan
perak). Sebab, pengikatan ini berarti pengharaman terhadap perkara yang mubah.
Padahal siapa pun juga –termasuk negara– tidak boleh mengharamkan yang mubah.

Akan tetapi, jika negara
memandang bahwa keberadaan mata uang tertentu –selain emas dan perak– akan
dapat memukul keuangan dan perekonomian negara, maka mata uang tersebut akan
dilarang beredar. Sebab, keberadaannya telah menimbulkan bahaya (dharar) yang diharamkan oleh syara’.
Kaidah syara’ menetapkan :

“Al wasilatu ilal
haram haram”

“Segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram” (An Nabhani, 1963)

Demikian
pula, bila ada mata uang tertentu yang dapat mengakibatkan bahaya (dharar) –sedang mata uang lainnya
tidak–, maka keberadaan mata uang tertentu itu saja yang akan dilarang, sedang
yang lainnya tidak. Ini sesuai kaidah syara’ :

“Kullu fardin min afradil amril
mubah idza kana dlaran au mu`ddiyan ila dharar hurrima dzalikal fardu wa
zhallal amru mubahan”

“Setiap satuan dari satuan-satuan perkara yang mubah,
jika bermudharat atau dapat membawa kemudharatan, maka satuan itu diharamkan
sedang perkaranya sendiri tetap mubah.”
(An Nabhani,
1963)

Keunggulan Dinar dan Dirham

Emas
dan perak adalah mata uang dunia paling stabil yang pernah dikenal. Sejak masa
awal Islam hingga hari ini, nilai mata uang Islam dwilogam itu secara
mengejutkan tetap stabil dalam hubungannya dengan barang-barang konsumtif.
Seekor ayam pada zaman Nabi Muhammad SAW harganya satu dirham. Hari ini, 1400
tahun kemudian, harganya kurang lebih masih satu dirham. Dengan demikian,
selama 1400 tahun, inflasi adalah nol.

Dapatkah kita mengatakan hal
yang sama untuk dolar AS atau uang kertas lainnya dalam 25 tahun terakhir?
Dalam jangka panjang, mata uang dwilogam telah terbukti menjadi mata uang dunia
paling stabil yang pernah dikenal. Mata uang tersebut telah dapat bertahan
meskipun terdapat berbagai upaya untuk
mentransformasi dinar dan dirham menjadi mata uang simbolik dengan cara
menetapkan suatu nilai nominal yang berbeda dengan beratnya.

Bahkan lebih dari itu, dinar dan
dirham berpeluang menjadi mata uang dunia. Sebab, dolar AS bukan lagi mata uang
yang kuat seperti sebelumnya. Fakta-fakta belakangan ini mengenai nilainya
dalam pertukaran internasional secara dramatis telah menunjukkan kelemahan
inheren dari mata uang ini. Lihatlah, Amerika Serikat, yang dulu merupakan
negara kreditor utama, sekarang telah menjadi negara debitor utama, di
samping Brazil, Mexico, Argentina,
dan Venezuela.

Umar Ibrahim Vadillo (1998)
bahkan membuktikan, dolar AS sebenarnya tak bernilai. Mengapa? Karena dunia
kini dibanjiri terlalu banyak dolar. Dalam pasar-pasar uang saja, terdapat
gelembung-gelembung dolar AS yang berjumlah 80 trilyun dolar AS pertahun.
Jumlah ini 20 kali lipat melebihi nilai perdagangan dunia, yang jumlahnya
sekitar 4 trilyun dolar AS pertahun. Artinya, gelembung itu bisa membeli segala yang diperdagangkan
sebanyak 20 kali lipat dari dimensi yang biasa. Gelembung ini tentu akan terus
membesar dan membesar. Dan, seperti ungkapan Vadillo (1998), Anda tak perlu
terlalu bijak untuk memahami bahwa gelembung itu suatu saat akan meledak dan
pecah, dan terjadilah keruntuhan ekonomi global yang niscaya lebih buruk dari
depresi ekonomi tahun 1929.

Sebagai
perbandingan yang kontras, emas adalah logam yang berharga. Nilainya tak
bergantung pada negara mana pun, bahkan tak bergantung pada sistem ekonomi
manapun. Nilainya adalah intrinsik, dan karenanya, dapat dipercaya. Maka dari itu, tak heran bila Vadillo (1998) menyatakan
bahwa emas adalah satu-satunya mata uang yang dapat menjamin kestabilan ekonomi
dunia.

Keberatan dan Jawabannya

Dalam
debat mengenai kemungkinan kembalinya sistem emas dalm perekonomian dunia, tak
jarang muncul pertanyaan, apakah emas yang ada di dunia cukup untuk menjalankan
sistem emas sebagaimana masa sebelumnya? Apakah emas yang ada cukup untuk
memenuhi kebutuhan aktivitas perdagangan? Apakah negara Khilafah mempunyai emas
yang cukup untuk kembali ke sistem emas?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan
itu, Abdul Qadim Zallum (1983) mengatakan bahwa emas yang ada di dunia cukup
untuk mengembalikan sistem emas dalam ekonomi dunia. Di dunia tersedia emas
yang juga cukup untuk memenuhi kebutuhan aktivitas perdagangan dan perekonomian
dunia.

Jawaban
tersebut didukung oleh alasan-alasan berikut :

1.
Emas yang dieksplorasi sepanjang
sejarah umat manusia, terus dimanfaatkan
hingga hari ini, meskipun telah dieksplorasi ribuan tahun yang lalu.
Artinya, orang-orang yang mengeksplorasi emas tidak mengkonsumsi emas sampai
emas itu lenyap atau habis, tetapi memanfaatkan emas dalam proses-proses
pertukaran, baik dalam bentuk uang atau perhiasan. Emas bisa diproses dalam
kegiatan industri atau dilebur kembali menjadi bentuk lain. Artinya, emas
memiliki sifat khas, yakni bersifat “abadi”, tak pernah lenyap.

2.
Emas dalam sejarah sejak masa
lampau hingga akhir abad ke-19, terbukti cukup untuk memenuhi kebutuhan
aktivitas perdagangan dan perekonomian dunia. Selama masa itu, tidak muncul
masalah-masalah ekonomi dan keuangan. Sepanjang abad ke-19, di mana pertumbuhan
ekonomi meningkat pesat, dunia menyaksikan kejayaan ekonomi, turunnya
harga-harga, dan juga meningkatnya upah dan gaji. Tetapi ternyata saat itu
tidak muncul kebutuhan akan emas, meskipun terjadi terjadi peningkatan volume
barang dan jasa.

3.
Apa yang dibayangkan orang
sebenarnya bukan banyaknya uang secara riil, tetapi daya belinya. Daya beli
dari satuan uang emas cukup besar, sehingga dapat melahirkan kestabilan dan
kemantapan, serta menghasilkan kesejahteraan dan kemakmuran. Sementara
penambahan uang kertas (yang tidak mewakili emas), akan membuat dunia mengalami
masalah-masalah ekonomi yang berat, sehingga inflasi akan meningkat. Hal ini pada gilirannya akan
menurunkan daya beli yang terdapat pada uang kertas itu.

4.
Sistem ekonomi yang bebas dari
batasan-batasan –seperti adanya penetapan harga dan monopoli– tidak
mementingkan jumlah uang yang ada. Berapa pun jumlah uang yang beredar, akan cukup
untuk membeli barang dan jasa yang ada di pasar. Jika barang dan jasa
bertambah, sementara jumlah uang yang beredar tetap, maka uang yang ada akan
mampu membeli barang dan jasa secara maksimal. Sebaliknya jika jumlah barang
dan jasa berkurang, sementara jumlah uang tetap, maka uang yang ada hanya akan
mengalami penurunan daya beli untuk membeli barang dan jasa. Walhasil,
berapapun uang yang ada, akan cukup untuk membeli barang dan jasa yang ada di
pasar, banyak ataupun sedikit.

5.
Fenomena yang nampak secara lahir,
yaitu kurangnya emas, sebenarnya muncul akibat inflasi dunia yang terus
melanda. Kalau sekiranya dunia kembali
kepada sistem emas, niscaya kestabilan keuangan akan kembali lagi. Dan hal ini
akan menyebabkan konsumsi emas mengecil, di mana saat itu emas tidak lagi
digunakan dalam spekulasi perdagangan.

Alasan-alasan
di atas menegaskan, bahwa dunia dimungkinkan untuk kembali kepada sistem emas,
dan bahwa emas yang ada di dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan akan uang serta
kebutuhan aktivitas perdagangan dan perekonomian.

Dinar-Dirham dan Institusi Negara Khilafah

Bagaimana caranya kembali kepada sistem emas, jika kita anggap sistem
ini memang layak untuk memperbaiki kualitas perekonomian dunia?

Untuk kembali ke sistem emas, harus
dihilangkan sebab-sebab yang dapat mengesampingkan peran emas, dan
faktor-faktor yang dapat meruntuhkan peran emas. Menurut Abdul Qadim Zallum
(1983) paling tidak harus ditempuh langkah-langkah berikut :

  1. Menghentikan pencetakan uang kertas.
  2. Memfungsikan kembali uang emas dalam
    berbagai akad mu’amalah.
  3. Menghapus semua hambatan yang
    menghalangi ekspor dan impor emas.
  4. Menghilangkan semua batasan/hambatan
    dalam kepemilikan, perolehan, penjualan, dan pembelian emas.
  5. Menghilangakan batasan/hambatan dalam
    kepemilikan terhadap berbagai mata uang utama dunia serta mengkondisikan
    agar persaingan di antara berbagai mata uang tersebut berlangsung secara bebas dan fair.
    Diharapkan, berbagai mata uang itu
    akan mengambil nilai tukar yang tetap terhadap emas, tanpa ada intervensi
    negara untuk menurunkan atau menaikkan nilai mata uangnya

Jika
emas diberi kebebasan seperti itu, dia akan mempunyai pasar yang terbuka dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Implikasinya, semua mata uang dunia akan
mengambil nilai tukar yang tetap terhadap emas. Muamalah internasional dengan
emas ini akan membuka jalan bagi emas
untuk eksis di mana pembayaran nilai-nilai akad berbagai komoditas akan diukur
nilainya dengan emas.

Langkah-langkah
di atas jika diambil oleh sebuah
negara yang kuat, maka keberhasilannya
akan mendorong negara-negara lain untuk mengikutinya. Hal ini akan menimbulkan
kemajuan langkah untuk mengembalikan sistem emas ke pentas ekonomi dunia sekali
lagi.

Dan
tidak ada negara yang lebih layak dan lebih mampu menempuh langkah-langkah itu
selain negara Islam (negara Khilafah). Sebab kembali kepada sistem emas dan
perak merupakan kewajiban yang ditetapkan Islam baginya, di samping merupakan
tanggung jawabnya untuk menyelamatkan dunia dari cengkeraman ekonomi
kapitalistik yang zalim dan kejam. [ ]

REFERENSI

Al Baghdadi, Abdurrahman. Serial Hukum Islam : Penyewaan Tanah Lahan, Kekayaan Gelap, Ukuran

Panjang,
Luas, Takaran, dan Timbangan
. Al Ma’arif. Bandung.
1987

An Nabhani, Taqiyyudin. An Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam. Darul
Ummah. Beirut, cetakan IV, 1990

An Nabhani, Taqiyyudin. Muqaddimah Dustur. t-tp. 1963

Moniaga, Mercia. Safety Saving by Gold. Tabloid Etalase
Edisi 14/Th. I/Minggu II/Sept.1999

Vadillo, Umar Ibrahim. Kembalikan Kegemilangan Mata Wang Islam. Majalah AL ISLAM (Malaysia).

Juli 1998

Zallum, Abdul Qadim. Al Amwal fi Daulatil Khilafah. Darul
Ilmi lil Malayin. Beirut, cetakan I, 1983

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: