Jatuhnya Granada & Awal Mula Penindasan Kristen Terhadap Umat Islam di Andalusia

Muslimdaily.net – Dalam beberapa episode ke depan, insya Allah akan ditulis sejarah runtuhnya peradaban Islam di Andalusia (Spanyol). Secara tidak bersambung, akan disampaikan tema-tema masa gelap kekuasaan Islam di Andalusia setelah berhasil dikuasai kembali oleh kaum Kristen. Kita juga akan membaca beberapa fakta sejarah kelam kekejaman kaum Kristen terhadap umat Islam di Andalusia pasca Reconquista (Penaklukan oleh kaum Kristen Katolik). Dan semua kegelapan umat Islam Andalusia itu dimulai pada saat jatuhnya Granada oleh kekuatan kaum Kristen Katolik di bawah Raja Ferdinand II dari Aragon dan Ratu Isabella I dari Castilla.
Benteng terakhir kekuasaan Islam di Andalusia (Spanyol) setelah seluruh wilayah jatuh ke tangan kaum Kristen Katolik berada di Granada. Pada akhir kekuasaan Islam di Andalusia, Granada berada di bawah kuasa Bani Ahmar (referensi lain menyebut Bani Nashri). Penguasa Granada saat itu berada di bawah kepemimpinan Sultan Abu Abdullah bin Abil Hasan (atau disebut dengan Boabdil dalam aksen Eropa). Ia juga disebut dengan Sultan Muhammad XII.
Kondisi umat Islam pada saat itu benar-benar sangat memilukan. Hampir seluruh umat Islam di Andalusia mengungsi ke wilayah Granada karena di sini lah satu-satunya wilayah yang masih berada dalam kekuasaan Islam.
Pada mulanya, dengan kekuatan umat Islam yang cukup besar di wilayah Granada, umat Islam bisa mempertahankan wilayah ini dari serangan kaum Kristen Katolik. Namun kekuatan umat Islam pada akhirnya melemah saat terjadi perselisihan -yang seharusnya tidak perlu terjadi- antara penguasa Granada Abu Abdullah bin Abil Hasan dengan pamannya, Azzaghel. Keduanya berselisih di saat umat Islam tengah dikepung oleh kekuatan kaum Kristen Katolik yang sudah sangat siap menyerang Granada. Dalam posisi itu, umat Islam pada saat itu berikhtiar dengan mengajukan solusi kepada kedua pemimpin yang berselisih itu dengan saran agar membagi daerah kekuasaan menjadi dua. Saran itu dimaksudkan agar kekuatan musuh tidak dapat mengambil peluang mengadakan serangan.
Namun ternyata kekuatan Kristen Katolik di bawah Raja Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari Castilla lebih cerdas melihat peluang itu. Kekuatan Kristen Katolik memanfaatkan perselisihan itu dengan terus menghembuskan isu dan fitnah untuk mengadu domba dua sisa kekuatan umat Islam di Spanyol itu. Pada saat itu, Azzaghel mengusasi lembah Aash, sedangkan Abu Abdullah Muhammad berada di Granada. Strategi Kristen Katolik mulai menuai hasil. Azzaghel tewas dibunuh oleh salah seorang pengkhianat dari Bani Ahmar yang bernama Yahya. Pada akhirnya, Yahya kemudian murtad dari Islam menjadi Nasrani dan hidup di Sevilla.
Yahya tak segan-segan menyerahkan Lembah Aash (yang sebelumnya dikuasai Azzaghel) kepada kekuasaan Raja Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dari Castilla. Atas penyerahan daerah penting ini, ia memperoleh imbalan yang demikian melimpah berupa harta benda. Ia juga diperkenankan pergi ke Maghrib (Maroko). Tetapi sesampainya Yahya di Fez, ia ditangkap oleh penguasa muslim setempat. Ia secara nyata telah melakukan pengkhianatan dengan membantu pasukan Salibis, maka pantaslah bila harta bendanya dirampas kemudian dipenjara hingga mati. (Muhammd Quthub, 1993: 38)
Selanjutnya, Abu Abdullah Muhammad masih terus berusaha mempertahankan Granada sampai kemudian ia menyerah damai. Ia menerima perjanjian damai yang berarti kekalahan baginya. Pada tanggal 2 Rabi’ul Awal tahun 897 H (2 Januari 1492 M), Abu Abdullah Muhammad, penguasa Islam terakhir di Granada dan Andalusia menyerahkan kunci Granada kepada Raja Ferdinand. Inilah hari berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia. Hari keruntuhan kekuasaan Islam setelah selama delapan abad Islam berkuasa sejak tahun 92 H. Saat meninggalkan istananya, Abu Abdullah menangis. Tentang ini ibunya berkomentar, “Kamu menangis seperti perempuan untuk sesuatu yang tak pernah kamu pertahankan selaiknya laki-laki!”
Setelah penyerahan itu, Abu Abdullah diasingkan ke Alpujarras. Ia lalu pindah ke Maghrib (Maroko) dan berdiam di Fez. Ia menjalani sisa hidup di sana sebagai rakyat biasa hingga wafat pada tahun 1037 H / 1533 M. Sedangkan keturunannya hidup hingga tahun 1037 H. Mereka bekerja sebagai petugas amil di Lembaga Wakaf Islam yang mengurusi kaum fakir miskin.
Perjanjian untuk penyerahan Granada terdiri dari 67 Pasal. Pasal ini meliputi jaminan keselamatan jiwa, agama, dan harta benda. Jaminan untuk kehormatan, pemikiran, dan kebebasan. Pasal-pasal lain juga menjamin untuk tiap muslim bebas melakukan ritualnya; menghormati rumah peribadatannya, membebaskan para tawanan, memberi kebebasan seluas-luasnya bagi mereka yang ingin hijrah ke Maghrib (Maroko), bebas dari upeti dan pajak untuk beberapa tahun.
Namun kenyataannya, semua butir-butir perjanjian itu tak satupun dipatuhi setelah kaum Salibis berkuasa sepenuhnya. Bahkan mereka secara resmi membatalkannya secara sepihak dengan dasar keputusan demi kesucian Al Masih.
Selanjutnya, mereka menindas kaum muslimin dengan berbagai cara. Mereka memiliki kelompok-kelompok atau semacam pasukan untuk menekan kaum muslimin. Kelompok itu berada di bawah naungan gereja. Diantara organisasi-organisasi yang bertindak kejam dalam naungan gereja itu antara lain adalah:
• Pahlawan Rangka
• Benteng Angin
• Mary Jacoba
• Mary George
• Wanita Kampak
Selain itu, kaum Kristen juga mengeluarkan selebaran anti kaum muslimin yang berasal dari para tokoh utama Katolik. Terutama setelah Turki Utsmani berhasil menguasai Konstantinopel (Istambul) pada tahun 857 H.
Ketika kelompok Bayyan ‘seorang tokoh sejarah muslim Granada’ memberontak, mereka berhasil membunuh beberapa penguasa. Mereka berontak atas kehormatannya yang diinjak-injak. Pemberontakan ini mendapat balasan dengan sangat kejamnya.
Pada tahun 1563 M, Faraj bin Faraj dari keturunan Bani Sarraj juga pernah memberontak. Mereka menyebar di pegunungan yang kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok muslimin di Granada, diantaranya adalah Hadonando Duflur, keturunan dari Khalifah Cordova. Ia lalu diangkat sebagai pemimpin dengan nama baru Muhammad bin Umayah. Pemberontakan pun kian meluas di daerah-daerah pegunungan. Lamanya hingga dua tahun. Korban banyak berjatuhan dari kedua pihak.
Namun dalam perkembangan berikutnya, Muhammad bin Umayah dicopot dari kepemimpinan oleh kaum muslimlin. Dia dinilai sangat lamban. Pimpinan yang baru diserahkan kepada Abdullah bin Abihi, seorang tokoh yang terkenal kegigihannya.
Kaum muslimin meneruskan pemberontakannya secara ksatria. Sementara tekanan Salibis semakin kejam. Akhirnya Abdullah, pemimpin mereka gugur. Dan oleh Salibis, kepala pemimpin Islam ini digantung di salah satu pintu gerbang Cordova selama tiga puluh tahun. Salibis Spanyol semakin melipatgandakan tindakan tiraninya. Kaum muslimin terus menerus diteror. Padahal mereka adalah orang-orang sipil.
Menurut pendataan para sejarawan, sebanyak kurang lebih tiga juta kaum muslimin dibantai, dibakar hidup-hidup, disiksa secara kejam, setelah jatuhnya Granada. Kaum muslimin menjadi berantakan. Akibatnya, pertanian, perindustrian, dan perdagangan pun hancur lebur karena ditinggal para ahlinya.
Sebagian kaum muslimin berupaya hijrah keluar dari Andalusia menuju negeri-negeri Islam terdekat. Kebanyakan menuju Maghrib. Namun sebagian diantara umat Islam juga banyak yang tidak mampu mengungsi ke negeri-negeri Islam. Mereka tidak memiliki pilihan kecuali menetap hidup di tanah Andalusia di bawah tekanan penguasa Kristen Katolik dengan syarat-syarat yang sangat ketat. Mereka bersifat pasif. Walaupun mereka sudah bersikap pasif, golongan Salibis masih tetap memperlakukan secara tidak manusiawi. Kelompok ini biasa disebut sebagai kaum Mudejaris. Kata Mudejar berasal dari kosakata Arab Mudajjan yang dikorupsi dalam lidah Spanyol. Mudajjan sendiri memiliki arti ‘dijinakkan’.
Kaum muslim Mudejaris dikenal sebagai orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang khususnya arsitek dan seni. Karena keahlian mereka, kaum Mudejaris dipaksa mengukir patung-patung Yesus dan membangun gereja-geraja dengan indah. Hasil karya-karya mereka sampai sekarang masih dapat dilihat dan disaksikan. Diantaranya adalah gereja Santa Maria di Calatayud, Istana La Mota di Valladolid, Katedral Teruel dll.
Jika kaum muslimin yang tetap berusaha mempertahankan keyakinan agamanya disebut kaum Mudejaris, maka kaum muslim yang dipaksa pindah agama Kristen Katolik dijuluki kaum Mouresque atau Moriscos, artinya orang-orang dari Maghrib. Hidup mereka membaur dengan orang-orang Portugis dan Spanyol. Walau begitu mereka masih tetap menjaga bahasa Arab. Bahasa Arab dilatinkannya dan disebut Khimyada. Banyak buku yang ditulis dengan huruf latin tetapi sebenarnya masih berbahasa Arab. Lahirlah bahasa baru campuran seperti huruf Mesir kuno ketika ditulis dalam huruf Griek. Kaum Moriscos ini, meskipun secara dzahir mereka beragama Kristen, tetapi mereka tetap menjalankan ritual agama Islam sebisa mungkin yang dapat mereka kerjakan dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. [mzf]
Disusun oleh Tim Redaktur Muslimdaily.net
Sumber Referensi:
Muhammad Ali Quthub. 1993. Fakta Pembantaian Muslimin di Andalusia. Solo: Pustaka Mantiq
Wikipedia.org
*Keterangan gambar:
#1 Lukisan penyerahan kunci Granada dari Sultan Muhammad XII kepada Raja Ferdinand II
#2 Bangunan Katedral Santa Maria Teruel, salah satu warisan karya peradaban kaum muslim Mudejaris

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.243 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: